Pages

Minggu, 06 November 2016

Dongeng Radio : Patung Jizo-san, Patung Yang Berterimakasih by PUTUSS

Minggu, 06 November 2016

Blogpost ini adalah tentang dongeng radio yang hampir setiap malam saya putar sebagai pengantar tidur saya, "Patung Jizo-san, Patung Yang Berterimakasih". Dongeng radio yang dibawakan oleh Paman Ganjar dan dibantu sama Dagienkz dan Desta ini adalah favorit saya, selain Julia and Silvi Story. Tidak tahu kenapa, tapi saya selalu bisa tidur lebih cepat (*tidak selalu nyenyak) kalau diantar tidur dengan mendengarkan dongeng ini. Jadi di semua gadget saya pasti ada file MP3 cerita ini.

24 Desember, satu hari sebelum Natal 2008, pertama kali saya dengar dongeng ini, sebagai salah satu segmen spesial siaran terakhir PUTUSS dengan penyiar Arie Dagienkz dan Desta, karena mulai awal tahun 2009, penyiar PUTUSS digantikan oleh Imam Darto, yang sekarang terkenal dengan acara The Comment di Net TV. 


Pembawaan cerita ini memang tidak sama persis dengan dongeng tradisional masyarakat Jepang, karena telah dimodifikasi oleh Paman Ganjar dan diselingi celetukan-celetukan yang bikin ngakak dari Desta dan Dagienkz. Bukan diselingi ding, tapi dikeseluruhan dongeng Dagienkz dan Desta nggak berhenti bikin ketawa. Ada juga gangguan kecil Om Farhan yang ikutan datang ke studio Prambors.

Di dongeng ini Paman Ganjar sebagai narator, membacakan narasi cerita dengan gaya khasnya, seolah-olah sedang bercerita sama anak-anak playgroup. Dagienkz berperan sebagai kakek Toshi, kakek tua miskin yang tinggal dihutan dengan istrinya, nenek Hiroshe (diperankan oleh Desta) istri yang setia menemani suaminya tapi agak cerewet (mungkin karena karakter desta yang memerankannya)

Paman Ganjar spesial datang ke Prambors untuk mendongeng salah satu dari 12 cerita rakyat jepang dan musim-musim yang mengiringinya, yaitu cerita tentang patung Jizo-san. Patung Jizo sendiri adalah Ksitigarbha salah satu dari empat Bodhisattva utama dalam Buddhisme Mahayana di Asia Timur, dan di Jepang dikenal dengan Jizo atau “o-jizo sama”.


Dalam dongeng masyarakat Jepang, jiwa para anak-anak yang meninggal mendahului orangtuanya tidak dapat menyeberangi Sungai Sanzu mistis seorang diri di kehidupan berikutnya karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengumpulkan perbuatan baik yang cukup banyak dan karena mereka telah membuat orangtuanya menderita (membuat orang tuanya sedih *red)

Orang-orang Jepang percaya bahwa Jizo menyelamatkan jiwa-jiwa mereka dari menjadi batu abadi di tepi sungai sebagai penebusan dosa, dengan menyembunyikan mereka dari para roh jahat dalam jubahnya, dan membiarkan mereka mendengar mantra-mantra.

Selamat mendengarkan dongeng radio asik ini, dan siap-siap ketawa aneh :)

Kamis, 03 November 2016

The Lobster : Film Yang Aneh (Movie Review)

Kamis, 03 November 2016

The Lobster. Film ini aneh!

Itu kesimpulan saya setelah dua jam nonton film ini dengan suasana tontonan yang sangat aneh. Kenapa aneh? Coba kita lihat saja set dari film ini. Dunia yang jadi mimpi buruk buat para single (kalau tidak mau disebut J*MBLO), di fim ini tidak boleh ada satupun orang dewasa yang tidak punya pasangan. Para jomblo, akan dibawa ke sebuah hotel untuk mengikuti program pencarian pasangan selama minimal 45 hari. Kalau berhasil dapat pasangan, mereka akan menikah dan kembali ke kota untuk menjalani hidup yang normal lagi. Tapi kalau gagal, mereka akan dibius dan ketika sadar mereka sudah berubah menjadi binatang, ya, benar-benar menjadi binatang. Setelah menjadi binatang, mereka akan dilepas ke hutan untuk hidup bebas sebagai jati diri mereka yang baru, atau dikirim ke kebun binatang untuk kembali dikekang demi tontonan manusia normal lainnya.


Namun sebelum dirubah menjadi hewan, mereka diberi pilihan untuk menentukan binatang apa yang mereka mau. Tokoh utama di film ini, David (Colin Farrell), jika dia gagal, dia memilih untuk menjadi lobster, sesuai dengan judul film ini. Pilihan yang tidak biasa tetapi David punya alasannya sendiri. Menurutnya Lobster itu punya umur panjang, berdarah biru seperti bangsawan dan ia juga suka laut, sangat suka laut.

Tetapi mencari pasangan di program ini ternyata tidak semudah yang David bayangkan, setelah sang istri meninggalkannya demi laki-laki lain. Sementara waktu terus berjalan David masih belum menemukan yang cocok dan hukuman sudah menantinya.

Saat nonton film ini, saya merasa agak mirip dengan The Hunger Game, dengan premis yang hampir sama, penuh aturan permainan yang absurb, dan beberapa intrik yang dilakukan berbagai karakter untuk bertahan hidup sebagai manusia. Para jomblo dikumpulkan dalam satu hotel, dan tinggal di kamar masing-masing, mereka diberi waktu 45 hari untuk mencari pasangan sebelum mereka diubah paksa menjadi hewan, namun batasan waktu bisa diperpanjang jika mereka berhasil menangkap para loner, sebutan buat para jomblo yang bersembunyi di hutan, yang tidak mau menerima aturan absurb ala film ini. Satu loner yang mereka tangkap akan menambah masa tinggal mereka di hotel selama satu hari.

Awal cerita lebih banyak untuk memperkenalkan karakternya, bagaimana David memulai hari pertamanya di hotel dengan satu tangan terikat di ranjang sebagai pembelajaran bahwa dua lebih baik dari satu. Iya, two is better than one. Ia kemudian berkenalan dengan sesama  penghuni lain seperti si pincang (Ben Whishaw) dan si gagap (John C. Reilly), melihat para  staff mempertontonkan indahnya hidup berpasangan.



Menurut saya sih, Colin Farrell sendiri berhasil membawakan karakter David dengan sangat baik dan saya menikmati kehidupan aneh dan kaku David di film ini. David yang depresi akan cinta. Fisiknya jauh dari Farrell yang  kita kenal, tambun dan culun. Dan film ini memang terasa agak datar dan monoton, terutama untuk para penonton film mainstream, bahkan kadang agak konyol. Dari cerita, karakter, serta narasi dari Rachel Weiz yang mencoba mendeskripsikan pertemuannya dengan David nantinya, berbanding terbalik dengan music score klasik yang mengiringi sepanjang film.

Ada beberapa komedi satir yang disisipkan sutradara ke film ini, dan membuat saya tersenyum getir, tentang bagaimana orang-orang memutuskan jalan hidupnya, untuk menghadapi kehidupan bersama pasangannya dan ketakutannya untuk berkomitmen atau untuk menjalani sulitnya hidup sendiri dan mati dalam kesendirian. Apakah dia akan membuka diri atau malah menutup hati. Dalam film ini terdapat bermacam-macam karakter dan keputusan mereka yang masing-masing unik untuk meneruskan hidup, atau bahkan mengakhirinya.


Menontonnya membuat kita menjadi saksi bagaimana keterpaksaan untuk menyukai seseorang membuat pelakunya menderita, bahkan mencoba mencari seseorang yang kita sukai pun juga termasuk sebuah penderitaan, seperti ketika David yang tak pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada si perempuan rabun jauh (Rachel Weisz) di situasi yang tidak memungkinkannya dan tidak diperbolehkannya untuk bercinta dengan siapa pun. Ya, The Lobster berusaha mencari sebuah sinonim untuk cinta dari sebuah ketakutan, batas waktu, perjodohan, sinkronisasi, kepolosan, kekayaan dan juga kebohongan.

Menurut penilaian saya film ini :
Story                              8.0
Directing                         7.2
Acting                             8.2
Visual                              7.5

Selasa, 18 Oktober 2016

PINDAHAN BLOG : FROM WORDPRESS TO BLOGGER

Selasa, 18 Oktober 2016

Hari ini saya pindahan konten blog dari blog lama saya yang ber-platform wordpress ke blogger. Dengan alasan, saya tidak terlalu familiar sama fitur-fitur di wordpress dan juga memang sebelum saya bikin blog pribadi di wordpress, saya lebih sering ngutak-atik blogger ketimbang WP.

Sejak pertama ngeblog, saya langsung pakai blogger untuk nulis ini itu pas jaman kuliah dulu. Dulu blog saya tentang musik dan film, musiksinema.blogspot.com, yang kemudian bermetamorfosa menjadi sinemaisme.blogspot.com, karena saya mau fokus bahas film saja di blog ini, dan saya agak males denger musik pas jaman-jaman itu. Tapi riwayat blog ini sudah tamat karena diberedel oleh google, sekitar awal tahun 2013, karena melanggar DMCA rules. Dan pemberedelan membuat saya jarang ngeblog lagi, males coy ngelawan google, haha.

Beberapa bulan kemudian, saya sempat ngeblog lagi bareng adek saya, Istinovipurna. Blog baru kami ini mentarget viewers/readers pecinta serial dan variety show korea, juga memakai platform blogger, kshowdrama.blogspot.com. Awalnya memang blog ini punya tujuan untuk menghasilkan dollar, pake pop up ads dan sejenisnya, tapi ujung-ujungnya setelah cuma beberapa puluh dollar yang kami didapat, kami mulai nggak konsisten sama blog ini. Dan sekarang blog ini terbengkalai dan nggak terlalu diurus karena memang bukan passion saya ngurusin hal-hal tentang korean show and drama. Nggak tau deh dek Isti masih suka nulis disana apa enggak.

Kenapa saya tiba-tiba pindahan blog dan pengen nulis lagi di blog?
Karena saya sebenarnya agak bete minggu ini, saya sudah capek-capek bikin buku saku yang saya proyeksikan akan bermanfaat untuk departemen, perusahaan, holding company, pemerintah dan rakyat Indonesia (*lebay) tentang salah satu equipment di Utility Plant, tapi malah file buku saku belum bisa di upload ke Sistem Informasi Diklat di kantor saya. Ya sudah, olehnyo aku lah lesu, laju aku nulis bae yang lain disini, haha

Jadi, setelah selesai pindahan konten, nggak semua kontennya sih. Cuma konten yang layak pindah saja, hehe.

Dan sekarang saya mau mulai nulis lagi aja di blog pribadi saya, haha.

HUJAN DAN COKLAT PANAS (Suatu Saat Nanti)



Dipindah dari Wordpress, Posted on January 17, 2015

Hujan siang ini di Bontang, mengingatkan saya tentang hal yang dulu sangat saya ingin lakukan di Jogja. Sebenarnya keinginan ini muncul pertama kali ketika saya melewati Snap Cafe, Demangan. Saya melihat cafe ini di kiri jalan sebelum saya sampai di rumah Rendra untuk urusan KKN, 2011. Sejak saat itu saya sering merencanakan untuk minum coklat panas, atau minimal susu panas, di Snap Cafe. Sambil membaca koran sore atau majalah apapun yang mereka siapkan untuk pelanggan mereka. Tapi sampai saat ini, keinginan ini belum pernah kesampaian, haha.

Kalau suatu saat nanti kesampaian, maka akan menjadi seperti ini :

Sore hari, hujan ringan yang cukup nyaman untuk berjalan kaki dengan payung di tangan kanan. Setelah menitipkan mobil di rumah Rendra (padahal sekarang Rendra sudah satu kota lagi dengan saya, dan bukan di Jogja, haha *red), saya bergegas tapi santai menuju Snap Cafe untuk langsung duduk tepat di samping kaca dan menikmati Hot Chocolate saya.

Entah kenapa dari dulu saya ingin sekali ke sini, hanya untuk sekedar minum coklat atau kopi. Entah untuk menyenangkan hati saya atau hanya kepengen saja. Tapi ketika saya bisa disini, di saat sore yang hujan ringan dan airnya mengalir di kaca tepat di samping saya duduk, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan, hehe.

Disini saya bisa membaca majalah atau koran sore, atau memasang muka ceria sambil melihat-lihat pengunjung lain di tempat ini. atau malah hanya duduk-duduk mendengarkan musik bertema hujan yang mereka putarkan di sore ini. Saya dengan senang hati akan menghabiskan sore ini dengan coklat panas disini dan kemudian pulang ke rumah dengan suasana hati tenang yang membantu saya bisa tidur nyenyak nanti malam.

Aaaah, menulis ini membuat saya merasa harus segera ke Jogja lagi, dan mencoba (berpura-pura) menjadi mahasiswa lagi, and I'm sure that this will be so fun!

NASEHAT MBAH GAMBOT



Dipindah dari Wordpress, Posted on 

"Hidup kan untuk memilih, cari yang terbaik dong!!" – Gambot

http://www.4shared.com/audio/-Yw5tz0n/Dagienkz__Desta_-_Mbah_gambot2.html

SPECIAL POST – HARI IBU

SUATU SAAT NANTI… (2)



Dipindah dari Worpress, Posted on December 16, 2014

Suatu saat nanti saya akan menjadi seorang seperti ini :

“Hampir setengah tahun ini saya tidak sempat bersih-bersih rumah. Istri saya pun masih sibuk dengan semua DIY project-nya, sehingga dia punya alasan untuk tidak merapikan sekitarnya. Alhasil, rumah kami ini terlihat kumuh dan berdebu. Kamis malam kemarin, kami sepakat dengan anak-anak untuk bersama-sama merapikan dan bersih-bersih rumah.

Jadilah sabtu siang ini kami memulai tugas kami masing-masing, merapikan ruangan sesuai list yang telah kami bagi lusa kemarin. Saya mendapat list ruang tamu dan gudang dalam, dua ruangan yang selayaknya memang harus dibersihkan oleh seorang ayah. Saya mendapati terlalu banyak barang berserakan di gudang dalam. Kertas, kardus, kayu, dan furnitur kecil yang sudah dibosani oleh istri saya.

Ada beberapa kertas yang menarik perhatian saya, nota dan struck yang sangat banyak dan tidak terawat. Nota pembelian velg mobil merah ini membuat saya tersenyum kecil sambil bicara dalam hati “Ooh, ternyata dulu saya beli velg itu tuh, harga nya segini yaa.” Buru-buru saya buang semua struck dan nota itu ke tong sampah, sebelum ketahuan istri dan kena omel.

Bersih-bersih rumah hari ini memberikan saya dua opsi dalam berbelanja dikemudian hari nanti, yaitu :
Mungkin nanti saya akan lebih bijak dalam membeli barang dan melihat dahulu pricetag-nya sebelum membelinya. Bukan seperti yang dulu-dulu, membeli tanpa tahu harga.

Atau mungkin nanti saya akan lebih bijak dalam membawa pulang struck belanja, agar tidak ketahuan istri.”

WAYANG ORANG ROCK : EKALAYA



Dipindah dari Wordpress, Posted on December 15, 2014 by iwanape

Sebenarnya ini adalah acara yang sudah lumayan lama. Maret 2014, saya nonton WOR Ekalaya di Tennis Indoor Senayan. WOR Ekalaya ini merupakan sebuah konsep pertunjukan wayang orang yang disisipi unsur musik rock didalamnya. Seru sih menurut saya, dimana para musisi rock ini mencoba menyajikan kisah Ekalaya dengan bahasa mereka, tanpa mengurangi keasikannya. Dan Dagienkz (sutradara) menyisipkan banyak jokes yang dibawakan dengan baik oleh para wayang, terutama Jikun dan Otong. Walaupun secara durasi wayang ini agak kelamaan, tapi untuk para pecinta musik sih tidak akan merasa bosan karena music rock-nya sangat catchy dan powerfull.

Nih synopsis jalan cerita WOR : Ekalaya

Di sebuah kerajaan bernama Paranggelung, hidup seorang raja yang adil dan bijaksana bernama Ekalaya yang tiada tandingannya. Anggraini, ratu dari kerajaan tersebut, sangatlah cantik. Mereka adalah pasangan yang amat serasi dan dicintai rakyatnya.  
Ekalaya yang selalu haus ilmu ingin berguru dengan guru besar Durna, seorang ksatria yang telah menoreh legenda. Saat pertama kali melihat Ekalaya, Durna langsung tahu bahwa Ekalaya seorang ksatria hebat dan betapa lelaki yang telah menjadi resi ini ingin bisa menurunkan ilmunya. Tetapi apa daya, Durna telah bersumpah hanya akan mewariskan ilmunya kepada para pandawa dan kurawa. 
Dengan berat hati, Durna menolak. Ekalaya pun meninggalkan Hastinapura dengan kekecewaan mendalam. Namun, dalam perjalanan pulang di hutan, Ekalaya memahat sebatang kayu sampai menyerupai wujud guru besar Durna. Ia pun kemudian berlatih di hadapan patung tersebut. Tiba-tiba patung itu seperti menyala. Ekalaya terkesima, akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di hutan dan berlatih bersama guru besar Durna pahatannya.  
Hari berlalu dan Ekalaya semakin lihai, ia juga membuat pelindung telinga agar frekuensi gitar tidak melukai telinganya sendiri. Ekalaya begitu lihai berlatih setiap hari hingga suatu ketika, frekuensi gitarnya tanpa sengaja membunuh seekor anjing. Sayangnya, anjing itu bukanlah sekedar anjing biasa, namun anjing milik Arjuna, putra pandawa yang saat itu sedang berjalan-jalan di hutan.  
Merasa murka, Arjuna yang sempat terkesima mendengarkan permainan Ekalaya, menghampirinya dengan emosi terutama setelah melihat patung guru besar Durna. Guru besar yang telah bersumpah tidak akan menurunkan ilmunya kecuali kepada para Pandawa dan Kurawa. Arjuna semakin marah dan merasa dikhianati.  
Arjuna pun menantang Ekalaya untuk menunjukkan kehebatannya. Namun sebenarnya Arjuna hanya ingin membuktikan kepada Ekalaya, bahwa hanya Arjunalah yang paling juara di seluruh antero jagat raya. Tantangan ini juga untuk mematahkan ketakutannya kepada Ekalaya yang sesungguhnya, jauh dalam lubuk hatinya, ia akui kehebatannya.

Update post akan berisi video pertunjukan Wayang Orang Rock : Ekalaya

SUATU SAAT NANTI… (1)



Dipindah dari Wordpress, Posted on December 15, 2014

Suatu saat nanti saya akan menjadi seorang seperti ini :

“Sabtu pagi agak siang, setelah selesai memandikan mobil merah, akhirnya si mobil keluar garasi dan ikut menyesakkan jalanan kota ini. Hanya berkeliling kota dan tertib berhenti di setiap lampu merah menyala, menghabiskan akhir pekan di jalanan.

Dan saya sudah terlalu bosan berakhir pekan yang selalu habis di cafe atau tempat makan yang tidak menarik lagi. Sudahlah, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil jalur tol ke arah bandara.

Saya menuju ke terminal kedatangan, mencoba duduk di coffe shop dan melihat-lihat siapa yang datang ke kota saya ini di akhir pekan. Aah, pastilah mereka hanya akan singgah saja di sini, kota ini bukanlah kota wisata dan tidak menarik untuk menghabiskan akhir pekan di sini.

Maka saya pun melangkahkan kaki ke terminal keberangkatan, berpura-pura melihat jadwal keberangkatan semua pesawat yang akan take off dari bandara ini. Terlalu banyak kota tujuan dari semua maskapai penerbangan ini. Saya yang sudah terlanjur bosan dengan suasana kota ini, akhirnya memutuskan untuk membeli tiket penerbangan ke …., saya belum memikirkannya. Kemudian menghitung jumlah kancing baju, dan membeli tiket penerbangan nomor urut 7 dari atas, sesuai dengan jumlah kancing baju saya.

Baiklah, akhirnya saya masuk ke waiting room tujuan ke Tanjung Pinang, menunggu 45 menit sebelum boarding ke pesawat. Selamat tinggal kota tercinta, sampai jumpa besok malam.”

BERTEDUH DI BAWAH PAYUNG TEDUH



Dipindah dari Wordpress, Posted on December 8, 2014

Beberapa hari ini Payung Teduh terlalu sering terdengar dari music player Nokia saya. Memang semuanya lagu lama karena sudah sekitar setahun yang lalu, terakhir kali saya mendengarkan musik asik mereka. Tiba-tiba diantara list video youtube muncul “Rahasia” yang mau tak mau harus di play. Dan lagi saya terlalu mudah terbawa suasana musik mereka. Kemudian niat membajak saya muncul, masuklah link video “Rahasia” ke youtube downloader. Dan masih banyak lagi lagu lain yang ikut ter-download.

Beruntung, saya juga menemukan penampilan live Payung Teduh di Sounds From The Corner. Masih tetap dengan penampilan sederhana mereka dalam menyajikan musik akustik, yang tak pernah terasa kurang walaupun hanya dengan formasi minimalis.

Penampilan live mereka di Sounds From The Corner, semoga semakin menambah kebahagiaan rekan-rekan semua.



Setlist
1. Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan
2. Menuju Senja
3. Resah
4. Cerita Gunung dan Laut

I think (500) Days of Summer depicts ‘that’ perfectly



Moved from Wordpress, Posted on

(500) Days of Summer is a story of a man, Tom, and a woman, Summer, and, to put it simply, their relationship. The narrator tells the viewer in the first 5 minutes of the movie that though the story is about a boy and girl, it isn’t a love story.

I think it would be really easy to say that (500) Days of Summer is a sad movie. Tom doesn’t end up with Summer. Summer so coldly refuses to define her relationship with Tom because she “doesn’t believe in love” only to break up with him and end up engaged to another man. We’re forced to see Tom go through this heartache and ultimately lose hope in meaningful, true love. Yes, no doubt about it. Parts of this movie are sad.

But more than sad, I see it as one of the most honest movies ever made. The world is FILLED with Toms. Heck, I’m a Tom. We meet someone. We think they’re incredible. We decide that they will be the person to complete us. That having them in our lives will make everything better. It’s so easy to get wrapped up in someone new and decide that THEY are what our lives are missing. When talking about the movie, a lot of people express their sympathy for Tom. How could Summer be so terrible to him? Why won’t she just call their relationship what it is?

But then we also forget those times that we’ve been a Summer. Those times where we meet someone new and just aren’t….really sure. We test the waters, and decide maybe a little too late that they aren’t what we are looking for.

The line that will forever resonate with me happens during a scene where Summer comes to Tom’s apartment. They had gotten in a fight about defining their relationship and Summer comes to apologize.

Tom: I need to know that you’re not going to wake up in the morning and feel differently.

Summer: And I can’t give you that. Nobody can.


And that is why this movie is so true. Relationships are great. No doubt about it. But if we’re always a Tom about them, we’ll always be left feeling hopeless and lost when they end. Of course…there are people who will stick around forever, and those will be the people you should always fight to keep in your life. But letting someone else define you can be so destructive, and I think (500) Days of Summer depicts that perfectly
iwanape © 2014