Blogpost ini adalah tentang dongeng radio yang hampir setiap malam saya putar sebagai pengantar tidur saya, "Patung Jizo-san, Patung Yang Berterimakasih". Dongeng radio yang dibawakan oleh Paman Ganjar dan dibantu sama Dagienkz dan Desta ini adalah favorit saya, selain Julia and Silvi Story. Tidak tahu kenapa, tapi saya selalu bisa tidur lebih cepat (*tidak selalu nyenyak) kalau diantar tidur dengan mendengarkan dongeng ini. Jadi di semua gadget saya pasti ada file MP3 cerita ini.
24 Desember, satu hari sebelum Natal 2008, pertama kali saya dengar
dongeng ini, sebagai salah satu segmen spesial siaran terakhir PUTUSS dengan penyiar Arie Dagienkz dan
Desta, karena mulai awal tahun 2009, penyiar PUTUSS digantikan oleh Imam Darto,
yang sekarang terkenal dengan acara The Comment di Net TV.
Pembawaan cerita ini memang tidak sama persis dengan dongeng tradisional
masyarakat Jepang, karena telah dimodifikasi oleh Paman Ganjar dan diselingi
celetukan-celetukan yang bikin ngakak dari Desta dan Dagienkz. Bukan diselingi ding, tapi dikeseluruhan dongeng Dagienkz dan Desta nggak berhenti bikin ketawa. Ada juga
gangguan kecil Om Farhan yang ikutan datang ke
studio Prambors.
Di dongeng ini Paman Ganjar sebagai narator, membacakan narasi cerita dengan gaya khasnya, seolah-olah sedang bercerita sama anak-anak playgroup. Dagienkz berperan sebagai kakek Toshi, kakek tua miskin yang tinggal dihutan dengan istrinya, nenek Hiroshe (diperankan oleh Desta) istri yang setia menemani suaminya tapi agak cerewet (mungkin karena karakter desta yang memerankannya)
Paman Ganjar spesial datang ke Prambors untuk mendongeng salah satu dari 12 cerita rakyat jepang dan musim-musim yang mengiringinya, yaitu cerita tentang patung Jizo-san. Patung Jizo sendiri adalah Ksitigarbha salah satu dari empat Bodhisattva utama dalam Buddhisme Mahayana di Asia Timur, dan di Jepang dikenal dengan Jizo atau “o-jizo sama”.
Dalam dongeng masyarakat Jepang, jiwa para anak-anak yang meninggal mendahului orangtuanya tidak dapat menyeberangi Sungai Sanzu mistis seorang diri di kehidupan berikutnya karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengumpulkan perbuatan baik yang cukup banyak dan karena mereka telah membuat orangtuanya menderita (membuat orang tuanya sedih *red)
Orang-orang Jepang percaya bahwa Jizo menyelamatkan jiwa-jiwa mereka dari menjadi batu abadi di tepi sungai sebagai penebusan dosa, dengan menyembunyikan mereka dari para roh jahat dalam jubahnya, dan membiarkan mereka mendengar mantra-mantra.
Selamat mendengarkan dongeng radio asik ini, dan siap-siap ketawa aneh :)















