Kamis, 03 November 2016
The Lobster : Film Yang Aneh (Movie Review)
Kamis, 03 November 2016
The Lobster. Film ini aneh!
Itu kesimpulan saya setelah dua jam nonton film ini dengan suasana tontonan yang sangat aneh. Kenapa aneh? Coba kita lihat saja set dari film ini. Dunia yang jadi mimpi buruk buat para single (kalau tidak mau disebut J*MBLO), di fim ini tidak boleh ada satupun orang dewasa yang tidak punya pasangan. Para jomblo, akan dibawa ke sebuah hotel untuk mengikuti program pencarian pasangan selama minimal 45 hari. Kalau berhasil dapat pasangan, mereka akan menikah dan kembali ke kota untuk menjalani hidup yang normal lagi. Tapi kalau gagal, mereka akan dibius dan ketika sadar mereka sudah berubah menjadi binatang, ya, benar-benar menjadi binatang. Setelah menjadi binatang, mereka akan dilepas ke hutan untuk hidup bebas sebagai jati diri mereka yang baru, atau dikirim ke kebun binatang untuk kembali dikekang demi tontonan manusia normal lainnya.
Namun sebelum dirubah menjadi hewan, mereka diberi pilihan untuk menentukan binatang apa yang mereka mau. Tokoh utama di film ini, David (Colin Farrell), jika dia gagal, dia memilih untuk menjadi lobster, sesuai dengan judul film ini. Pilihan yang tidak biasa tetapi David punya alasannya sendiri. Menurutnya Lobster itu punya umur panjang, berdarah biru seperti bangsawan dan ia juga suka laut, sangat suka laut.
Tetapi mencari pasangan di program ini ternyata tidak semudah yang David bayangkan, setelah sang istri meninggalkannya demi laki-laki lain. Sementara waktu terus berjalan David masih belum menemukan yang cocok dan hukuman sudah menantinya.
Saat nonton film ini, saya merasa agak mirip dengan The Hunger Game, dengan premis yang hampir sama, penuh aturan permainan yang absurb, dan beberapa intrik yang dilakukan berbagai karakter untuk bertahan hidup sebagai manusia. Para jomblo dikumpulkan dalam satu hotel, dan tinggal di kamar masing-masing, mereka diberi waktu 45 hari untuk mencari pasangan sebelum mereka diubah paksa menjadi hewan, namun batasan waktu bisa diperpanjang jika mereka berhasil menangkap para loner, sebutan buat para jomblo yang bersembunyi di hutan, yang tidak mau menerima aturan absurb ala film ini. Satu loner yang mereka tangkap akan menambah masa tinggal mereka di hotel selama satu hari.
Awal cerita lebih banyak untuk memperkenalkan karakternya, bagaimana David memulai hari pertamanya di hotel dengan satu tangan terikat di ranjang sebagai pembelajaran bahwa dua lebih baik dari satu. Iya, two is better than one. Ia kemudian berkenalan dengan sesama penghuni lain seperti si pincang (Ben Whishaw) dan si gagap (John C. Reilly), melihat para staff mempertontonkan indahnya hidup berpasangan.
Menurut saya sih, Colin Farrell sendiri berhasil membawakan karakter David dengan sangat baik dan saya menikmati kehidupan aneh dan kaku David di film ini. David yang depresi akan cinta. Fisiknya jauh dari Farrell yang kita kenal, tambun dan culun. Dan film ini memang terasa agak datar dan monoton, terutama untuk para penonton film mainstream, bahkan kadang agak konyol. Dari cerita, karakter, serta narasi dari Rachel Weiz yang mencoba mendeskripsikan pertemuannya dengan David nantinya, berbanding terbalik dengan music score klasik yang mengiringi sepanjang film.
Ada beberapa komedi satir yang disisipkan sutradara ke film ini, dan membuat saya tersenyum getir, tentang bagaimana orang-orang memutuskan jalan hidupnya, untuk menghadapi kehidupan bersama pasangannya dan ketakutannya untuk berkomitmen atau untuk menjalani sulitnya hidup sendiri dan mati dalam kesendirian. Apakah dia akan membuka diri atau malah menutup hati. Dalam film ini terdapat bermacam-macam karakter dan keputusan mereka yang masing-masing unik untuk meneruskan hidup, atau bahkan mengakhirinya.
Menontonnya membuat kita menjadi saksi bagaimana keterpaksaan untuk menyukai seseorang membuat pelakunya menderita, bahkan mencoba mencari seseorang yang kita sukai pun juga termasuk sebuah penderitaan, seperti ketika David yang tak pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada si perempuan rabun jauh (Rachel Weisz) di situasi yang tidak memungkinkannya dan tidak diperbolehkannya untuk bercinta dengan siapa pun. Ya, The Lobster berusaha mencari sebuah sinonim untuk cinta dari sebuah ketakutan, batas waktu, perjodohan, sinkronisasi, kepolosan, kekayaan dan juga kebohongan.
Menurut penilaian saya film ini :
Story 8.0
Directing 7.2
Acting 8.2
Visual 7.5
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar