" nikmatilah zona nyamanmu. susah payah semesta menyiapkannya untukmu, dan kau yang tak tau diri malah mau meninggalkannya! " - iwanape, 2022
Selasa, 08 Februari 2022
Minggu, 06 November 2016
Dongeng Radio : Patung Jizo-san, Patung Yang Berterimakasih by PUTUSS
Minggu, 06 November 2016
Blogpost ini adalah tentang dongeng radio yang hampir setiap malam saya putar sebagai pengantar tidur saya, "Patung Jizo-san, Patung Yang Berterimakasih". Dongeng radio yang dibawakan oleh Paman Ganjar dan dibantu sama Dagienkz dan Desta ini adalah favorit saya, selain Julia and Silvi Story. Tidak tahu kenapa, tapi saya selalu bisa tidur lebih cepat (*tidak selalu nyenyak) kalau diantar tidur dengan mendengarkan dongeng ini. Jadi di semua gadget saya pasti ada file MP3 cerita ini.
24 Desember, satu hari sebelum Natal 2008, pertama kali saya dengar
dongeng ini, sebagai salah satu segmen spesial siaran terakhir PUTUSS dengan penyiar Arie Dagienkz dan
Desta, karena mulai awal tahun 2009, penyiar PUTUSS digantikan oleh Imam Darto,
yang sekarang terkenal dengan acara The Comment di Net TV.
Pembawaan cerita ini memang tidak sama persis dengan dongeng tradisional
masyarakat Jepang, karena telah dimodifikasi oleh Paman Ganjar dan diselingi
celetukan-celetukan yang bikin ngakak dari Desta dan Dagienkz. Bukan diselingi ding, tapi dikeseluruhan dongeng Dagienkz dan Desta nggak berhenti bikin ketawa. Ada juga
gangguan kecil Om Farhan yang ikutan datang ke
studio Prambors.
Di dongeng ini Paman Ganjar sebagai narator, membacakan narasi cerita dengan gaya khasnya, seolah-olah sedang bercerita sama anak-anak playgroup. Dagienkz berperan sebagai kakek Toshi, kakek tua miskin yang tinggal dihutan dengan istrinya, nenek Hiroshe (diperankan oleh Desta) istri yang setia menemani suaminya tapi agak cerewet (mungkin karena karakter desta yang memerankannya)
Paman Ganjar spesial datang ke Prambors untuk mendongeng salah satu dari 12 cerita rakyat jepang dan musim-musim yang mengiringinya, yaitu cerita tentang patung Jizo-san. Patung Jizo sendiri adalah Ksitigarbha salah satu dari empat Bodhisattva utama dalam Buddhisme Mahayana di Asia Timur, dan di Jepang dikenal dengan Jizo atau “o-jizo sama”.
Dalam dongeng masyarakat Jepang, jiwa para anak-anak yang meninggal mendahului orangtuanya tidak dapat menyeberangi Sungai Sanzu mistis seorang diri di kehidupan berikutnya karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengumpulkan perbuatan baik yang cukup banyak dan karena mereka telah membuat orangtuanya menderita (membuat orang tuanya sedih *red)
Orang-orang Jepang percaya bahwa Jizo menyelamatkan jiwa-jiwa mereka dari menjadi batu abadi di tepi sungai sebagai penebusan dosa, dengan menyembunyikan mereka dari para roh jahat dalam jubahnya, dan membiarkan mereka mendengar mantra-mantra.
Selamat mendengarkan dongeng radio asik ini, dan siap-siap ketawa aneh :)
Kamis, 03 November 2016
The Lobster : Film Yang Aneh (Movie Review)
Kamis, 03 November 2016
The Lobster. Film ini aneh!
Itu kesimpulan saya setelah dua jam nonton film ini dengan suasana tontonan yang sangat aneh. Kenapa aneh? Coba kita lihat saja set dari film ini. Dunia yang jadi mimpi buruk buat para single (kalau tidak mau disebut J*MBLO), di fim ini tidak boleh ada satupun orang dewasa yang tidak punya pasangan. Para jomblo, akan dibawa ke sebuah hotel untuk mengikuti program pencarian pasangan selama minimal 45 hari. Kalau berhasil dapat pasangan, mereka akan menikah dan kembali ke kota untuk menjalani hidup yang normal lagi. Tapi kalau gagal, mereka akan dibius dan ketika sadar mereka sudah berubah menjadi binatang, ya, benar-benar menjadi binatang. Setelah menjadi binatang, mereka akan dilepas ke hutan untuk hidup bebas sebagai jati diri mereka yang baru, atau dikirim ke kebun binatang untuk kembali dikekang demi tontonan manusia normal lainnya.
Namun sebelum dirubah menjadi hewan, mereka diberi pilihan untuk menentukan binatang apa yang mereka mau. Tokoh utama di film ini, David (Colin Farrell), jika dia gagal, dia memilih untuk menjadi lobster, sesuai dengan judul film ini. Pilihan yang tidak biasa tetapi David punya alasannya sendiri. Menurutnya Lobster itu punya umur panjang, berdarah biru seperti bangsawan dan ia juga suka laut, sangat suka laut.
Tetapi mencari pasangan di program ini ternyata tidak semudah yang David bayangkan, setelah sang istri meninggalkannya demi laki-laki lain. Sementara waktu terus berjalan David masih belum menemukan yang cocok dan hukuman sudah menantinya.
Saat nonton film ini, saya merasa agak mirip dengan The Hunger Game, dengan premis yang hampir sama, penuh aturan permainan yang absurb, dan beberapa intrik yang dilakukan berbagai karakter untuk bertahan hidup sebagai manusia. Para jomblo dikumpulkan dalam satu hotel, dan tinggal di kamar masing-masing, mereka diberi waktu 45 hari untuk mencari pasangan sebelum mereka diubah paksa menjadi hewan, namun batasan waktu bisa diperpanjang jika mereka berhasil menangkap para loner, sebutan buat para jomblo yang bersembunyi di hutan, yang tidak mau menerima aturan absurb ala film ini. Satu loner yang mereka tangkap akan menambah masa tinggal mereka di hotel selama satu hari.
Awal cerita lebih banyak untuk memperkenalkan karakternya, bagaimana David memulai hari pertamanya di hotel dengan satu tangan terikat di ranjang sebagai pembelajaran bahwa dua lebih baik dari satu. Iya, two is better than one. Ia kemudian berkenalan dengan sesama penghuni lain seperti si pincang (Ben Whishaw) dan si gagap (John C. Reilly), melihat para staff mempertontonkan indahnya hidup berpasangan.
Menurut saya sih, Colin Farrell sendiri berhasil membawakan karakter David dengan sangat baik dan saya menikmati kehidupan aneh dan kaku David di film ini. David yang depresi akan cinta. Fisiknya jauh dari Farrell yang kita kenal, tambun dan culun. Dan film ini memang terasa agak datar dan monoton, terutama untuk para penonton film mainstream, bahkan kadang agak konyol. Dari cerita, karakter, serta narasi dari Rachel Weiz yang mencoba mendeskripsikan pertemuannya dengan David nantinya, berbanding terbalik dengan music score klasik yang mengiringi sepanjang film.
Ada beberapa komedi satir yang disisipkan sutradara ke film ini, dan membuat saya tersenyum getir, tentang bagaimana orang-orang memutuskan jalan hidupnya, untuk menghadapi kehidupan bersama pasangannya dan ketakutannya untuk berkomitmen atau untuk menjalani sulitnya hidup sendiri dan mati dalam kesendirian. Apakah dia akan membuka diri atau malah menutup hati. Dalam film ini terdapat bermacam-macam karakter dan keputusan mereka yang masing-masing unik untuk meneruskan hidup, atau bahkan mengakhirinya.
Menontonnya membuat kita menjadi saksi bagaimana keterpaksaan untuk menyukai seseorang membuat pelakunya menderita, bahkan mencoba mencari seseorang yang kita sukai pun juga termasuk sebuah penderitaan, seperti ketika David yang tak pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada si perempuan rabun jauh (Rachel Weisz) di situasi yang tidak memungkinkannya dan tidak diperbolehkannya untuk bercinta dengan siapa pun. Ya, The Lobster berusaha mencari sebuah sinonim untuk cinta dari sebuah ketakutan, batas waktu, perjodohan, sinkronisasi, kepolosan, kekayaan dan juga kebohongan.
Menurut penilaian saya film ini :
Story 8.0
Directing 7.2
Acting 8.2
Visual 7.5
Selasa, 18 Oktober 2016
PINDAHAN BLOG : FROM WORDPRESS TO BLOGGER
Selasa, 18 Oktober 2016
Hari ini saya pindahan konten blog dari blog lama saya yang ber-platform wordpress ke blogger. Dengan alasan, saya tidak terlalu familiar sama fitur-fitur di wordpress dan juga memang sebelum saya bikin blog pribadi di wordpress, saya lebih sering ngutak-atik blogger ketimbang WP.
Sejak pertama ngeblog, saya langsung pakai blogger untuk nulis ini itu pas jaman kuliah dulu. Dulu blog saya tentang musik dan film, musiksinema.blogspot.com, yang kemudian bermetamorfosa menjadi sinemaisme.blogspot.com, karena saya mau fokus bahas film saja di blog ini, dan saya agak males denger musik pas jaman-jaman itu. Tapi riwayat blog ini sudah tamat karena diberedel oleh google, sekitar awal tahun 2013, karena melanggar DMCA rules. Dan pemberedelan membuat saya jarang ngeblog lagi, males coy ngelawan google, haha.
Beberapa bulan kemudian, saya sempat ngeblog lagi bareng adek saya, Istinovipurna. Blog baru kami ini mentarget viewers/readers pecinta serial dan variety show korea, juga memakai platform blogger, kshowdrama.blogspot.com. Awalnya memang blog ini punya tujuan untuk menghasilkan dollar, pake pop up ads dan sejenisnya, tapi ujung-ujungnya setelah cuma beberapa puluh dollar yang kami didapat, kami mulai nggak konsisten sama blog ini. Dan sekarang blog ini terbengkalai dan nggak terlalu diurus karena memang bukan passion saya ngurusin hal-hal tentang korean show and drama. Nggak tau deh dek Isti masih suka nulis disana apa enggak.
Kenapa saya tiba-tiba pindahan blog dan pengen nulis lagi di blog?
Karena saya sebenarnya agak bete minggu ini, saya sudah capek-capek bikin buku saku yang saya proyeksikan akan bermanfaat untuk departemen, perusahaan, holding company, pemerintah dan rakyat Indonesia (*lebay) tentang salah satu equipment di Utility Plant, tapi malah file buku saku belum bisa di upload ke Sistem Informasi Diklat di kantor saya. Ya sudah, olehnyo aku lah lesu, laju aku nulis bae yang lain disini, haha
Kenapa saya tiba-tiba pindahan blog dan pengen nulis lagi di blog?
Karena saya sebenarnya agak bete minggu ini, saya sudah capek-capek bikin buku saku yang saya proyeksikan akan bermanfaat untuk departemen, perusahaan, holding company, pemerintah dan rakyat Indonesia (*lebay) tentang salah satu equipment di Utility Plant, tapi malah file buku saku belum bisa di upload ke Sistem Informasi Diklat di kantor saya. Ya sudah, olehnyo aku lah lesu, laju aku nulis bae yang lain disini, haha
Jadi, setelah selesai pindahan konten, nggak semua kontennya sih. Cuma konten yang layak pindah saja, hehe.
Dan sekarang saya mau mulai nulis lagi aja di blog pribadi saya, haha.
Dan sekarang saya mau mulai nulis lagi aja di blog pribadi saya, haha.
HUJAN DAN COKLAT PANAS (Suatu Saat Nanti)
Dipindah dari Wordpress, Posted on January 17, 2015
Hujan siang ini di Bontang, mengingatkan saya tentang hal yang dulu sangat saya ingin lakukan di Jogja. Sebenarnya keinginan ini muncul pertama kali ketika saya melewati Snap Cafe, Demangan. Saya melihat cafe ini di kiri jalan sebelum saya sampai di rumah Rendra untuk urusan KKN, 2011. Sejak saat itu saya sering merencanakan untuk minum coklat panas, atau minimal susu panas, di Snap Cafe. Sambil membaca koran sore atau majalah apapun yang mereka siapkan untuk pelanggan mereka. Tapi sampai saat ini, keinginan ini belum pernah kesampaian, haha.
Kalau suatu saat nanti kesampaian, maka akan menjadi seperti ini :
Sore hari, hujan ringan yang cukup nyaman untuk berjalan kaki dengan payung di tangan kanan. Setelah menitipkan mobil di rumah Rendra (padahal sekarang Rendra sudah satu kota lagi dengan saya, dan bukan di Jogja, haha *red), saya bergegas tapi santai menuju Snap Cafe untuk langsung duduk tepat di samping kaca dan menikmati Hot Chocolate saya.
Entah kenapa dari dulu saya ingin sekali ke sini, hanya untuk sekedar minum coklat atau kopi. Entah untuk menyenangkan hati saya atau hanya kepengen saja. Tapi ketika saya bisa disini, di saat sore yang hujan ringan dan airnya mengalir di kaca tepat di samping saya duduk, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan, hehe.
Disini saya bisa membaca majalah atau koran sore, atau memasang muka ceria sambil melihat-lihat pengunjung lain di tempat ini. atau malah hanya duduk-duduk mendengarkan musik bertema hujan yang mereka putarkan di sore ini. Saya dengan senang hati akan menghabiskan sore ini dengan coklat panas disini dan kemudian pulang ke rumah dengan suasana hati tenang yang membantu saya bisa tidur nyenyak nanti malam.
Aaaah, menulis ini membuat saya merasa harus segera ke Jogja lagi, dan mencoba (berpura-pura) menjadi mahasiswa lagi, and I'm sure that this will be so fun!
NASEHAT MBAH GAMBOT
Dipindah dari Wordpress, Posted on
"Hidup kan untuk memilih, cari yang terbaik dong!!" – Gambot
http://www.4shared.com/audio/-Yw5tz0n/Dagienkz__Desta_-_Mbah_gambot2.html
SUATU SAAT NANTI… (2)
Dipindah dari Worpress, Posted on December 16, 2014
Suatu saat nanti saya akan menjadi seorang seperti ini :
“Hampir setengah tahun ini saya tidak sempat bersih-bersih rumah. Istri saya pun masih sibuk dengan semua DIY project-nya, sehingga dia punya alasan untuk tidak merapikan sekitarnya. Alhasil, rumah kami ini terlihat kumuh dan berdebu. Kamis malam kemarin, kami sepakat dengan anak-anak untuk bersama-sama merapikan dan bersih-bersih rumah.
Jadilah sabtu siang ini kami memulai tugas kami masing-masing, merapikan ruangan sesuai list yang telah kami bagi lusa kemarin. Saya mendapat list ruang tamu dan gudang dalam, dua ruangan yang selayaknya memang harus dibersihkan oleh seorang ayah. Saya mendapati terlalu banyak barang berserakan di gudang dalam. Kertas, kardus, kayu, dan furnitur kecil yang sudah dibosani oleh istri saya.
Ada beberapa kertas yang menarik perhatian saya, nota dan struck yang sangat banyak dan tidak terawat. Nota pembelian velg mobil merah ini membuat saya tersenyum kecil sambil bicara dalam hati “Ooh, ternyata dulu saya beli velg itu tuh, harga nya segini yaa.” Buru-buru saya buang semua struck dan nota itu ke tong sampah, sebelum ketahuan istri dan kena omel.
Bersih-bersih rumah hari ini memberikan saya dua opsi dalam berbelanja dikemudian hari nanti, yaitu :
Mungkin nanti saya akan lebih bijak dalam membeli barang dan melihat dahulu pricetag-nya sebelum membelinya. Bukan seperti yang dulu-dulu, membeli tanpa tahu harga.
Atau mungkin nanti saya akan lebih bijak dalam membawa pulang struck belanja, agar tidak ketahuan istri.”
WAYANG ORANG ROCK : EKALAYA
Dipindah dari Wordpress, Posted on December 15, 2014 by iwanape
Sebenarnya ini adalah acara yang sudah lumayan lama. Maret 2014, saya nonton WOR Ekalaya di Tennis Indoor Senayan. WOR Ekalaya ini merupakan sebuah konsep pertunjukan wayang orang yang disisipi unsur musik rock didalamnya. Seru sih menurut saya, dimana para musisi rock ini mencoba menyajikan kisah Ekalaya dengan bahasa mereka, tanpa mengurangi keasikannya. Dan Dagienkz (sutradara) menyisipkan banyak jokes yang dibawakan dengan baik oleh para wayang, terutama Jikun dan Otong. Walaupun secara durasi wayang ini agak kelamaan, tapi untuk para pecinta musik sih tidak akan merasa bosan karena music rock-nya sangat catchy dan powerfull.
Nih synopsis jalan cerita WOR : Ekalaya
Di sebuah kerajaan bernama Paranggelung, hidup seorang raja yang adil dan bijaksana bernama Ekalaya yang tiada tandingannya. Anggraini, ratu dari kerajaan tersebut, sangatlah cantik. Mereka adalah pasangan yang amat serasi dan dicintai rakyatnya.
Ekalaya yang selalu haus ilmu ingin berguru dengan guru besar Durna, seorang ksatria yang telah menoreh legenda. Saat pertama kali melihat Ekalaya, Durna langsung tahu bahwa Ekalaya seorang ksatria hebat dan betapa lelaki yang telah menjadi resi ini ingin bisa menurunkan ilmunya. Tetapi apa daya, Durna telah bersumpah hanya akan mewariskan ilmunya kepada para pandawa dan kurawa.
Dengan berat hati, Durna menolak. Ekalaya pun meninggalkan Hastinapura dengan kekecewaan mendalam. Namun, dalam perjalanan pulang di hutan, Ekalaya memahat sebatang kayu sampai menyerupai wujud guru besar Durna. Ia pun kemudian berlatih di hadapan patung tersebut. Tiba-tiba patung itu seperti menyala. Ekalaya terkesima, akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di hutan dan berlatih bersama guru besar Durna pahatannya.
Hari berlalu dan Ekalaya semakin lihai, ia juga membuat pelindung telinga agar frekuensi gitar tidak melukai telinganya sendiri. Ekalaya begitu lihai berlatih setiap hari hingga suatu ketika, frekuensi gitarnya tanpa sengaja membunuh seekor anjing. Sayangnya, anjing itu bukanlah sekedar anjing biasa, namun anjing milik Arjuna, putra pandawa yang saat itu sedang berjalan-jalan di hutan.
Merasa murka, Arjuna yang sempat terkesima mendengarkan permainan Ekalaya, menghampirinya dengan emosi terutama setelah melihat patung guru besar Durna. Guru besar yang telah bersumpah tidak akan menurunkan ilmunya kecuali kepada para Pandawa dan Kurawa. Arjuna semakin marah dan merasa dikhianati.
Arjuna pun menantang Ekalaya untuk menunjukkan kehebatannya. Namun sebenarnya Arjuna hanya ingin membuktikan kepada Ekalaya, bahwa hanya Arjunalah yang paling juara di seluruh antero jagat raya. Tantangan ini juga untuk mematahkan ketakutannya kepada Ekalaya yang sesungguhnya, jauh dalam lubuk hatinya, ia akui kehebatannya.
Update post akan berisi video pertunjukan Wayang Orang Rock : Ekalaya
SUATU SAAT NANTI… (1)
Dipindah dari Wordpress, Posted on December 15, 2014
Suatu saat nanti saya akan menjadi seorang seperti ini :
“Sabtu pagi agak siang, setelah selesai memandikan mobil merah, akhirnya si mobil keluar garasi dan ikut menyesakkan jalanan kota ini. Hanya berkeliling kota dan tertib berhenti di setiap lampu merah menyala, menghabiskan akhir pekan di jalanan.
Dan saya sudah terlalu bosan berakhir pekan yang selalu habis di cafe atau tempat makan yang tidak menarik lagi. Sudahlah, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil jalur tol ke arah bandara.
Saya menuju ke terminal kedatangan, mencoba duduk di coffe shop dan melihat-lihat siapa yang datang ke kota saya ini di akhir pekan. Aah, pastilah mereka hanya akan singgah saja di sini, kota ini bukanlah kota wisata dan tidak menarik untuk menghabiskan akhir pekan di sini.
Maka saya pun melangkahkan kaki ke terminal keberangkatan, berpura-pura melihat jadwal keberangkatan semua pesawat yang akan take off dari bandara ini. Terlalu banyak kota tujuan dari semua maskapai penerbangan ini. Saya yang sudah terlanjur bosan dengan suasana kota ini, akhirnya memutuskan untuk membeli tiket penerbangan ke …., saya belum memikirkannya. Kemudian menghitung jumlah kancing baju, dan membeli tiket penerbangan nomor urut 7 dari atas, sesuai dengan jumlah kancing baju saya.
Baiklah, akhirnya saya masuk ke waiting room tujuan ke Tanjung Pinang, menunggu 45 menit sebelum boarding ke pesawat. Selamat tinggal kota tercinta, sampai jumpa besok malam.”
BERTEDUH DI BAWAH PAYUNG TEDUH
Dipindah dari Wordpress, Posted on December 8, 2014
Beberapa hari ini Payung Teduh terlalu sering terdengar dari music player Nokia saya. Memang semuanya lagu lama karena sudah sekitar setahun yang lalu, terakhir kali saya mendengarkan musik asik mereka. Tiba-tiba diantara list video youtube muncul “Rahasia” yang mau tak mau harus di play. Dan lagi saya terlalu mudah terbawa suasana musik mereka. Kemudian niat membajak saya muncul, masuklah link video “Rahasia” ke youtube downloader. Dan masih banyak lagi lagu lain yang ikut ter-download.
Beruntung, saya juga menemukan penampilan live Payung Teduh di Sounds From The Corner. Masih tetap dengan penampilan sederhana mereka dalam menyajikan musik akustik, yang tak pernah terasa kurang walaupun hanya dengan formasi minimalis.
Penampilan live mereka di Sounds From The Corner, semoga semakin menambah kebahagiaan rekan-rekan semua.
Setlist
1. Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan
2. Menuju Senja
3. Resah
4. Cerita Gunung dan Laut
I think (500) Days of Summer depicts ‘that’ perfectly
Moved from Wordpress, Posted on
(500) Days of Summer is a story of a
man, Tom, and a woman, Summer, and, to put it simply, their
relationship. The narrator tells the viewer in the first 5 minutes of
the movie that though the story is about a boy and girl, it isn’t a love
story.
I think it would be really easy to say
that (500) Days of Summer is a sad movie. Tom doesn’t end up with
Summer. Summer so coldly refuses to define her relationship with Tom
because she “doesn’t believe in love” only to break up with him and end
up engaged to another man. We’re forced to see Tom go through this
heartache and ultimately lose hope in meaningful, true love. Yes, no
doubt about it. Parts of this movie are sad.
But more than sad, I see it as one of
the most honest movies ever made. The world is FILLED with Toms. Heck,
I’m a Tom. We meet someone. We think they’re incredible. We decide that
they will be the person to complete us. That having them in our lives
will make everything better. It’s so easy to get wrapped up in someone
new and decide that THEY are what our lives are missing. When talking
about the movie, a lot of people express their sympathy for Tom. How
could Summer be so terrible to him? Why won’t she just call their
relationship what it is?
But then we also forget those times
that we’ve been a Summer. Those times where we meet someone new and just
aren’t….really sure. We test the waters, and decide maybe a little too
late that they aren’t what we are looking for.
The line that will forever resonate
with me happens during a scene where Summer comes to Tom’s apartment.
They had gotten in a fight about defining their relationship and Summer
comes to apologize.
Tom: I need to know that you’re not going to wake up in the morning and feel differently.
Summer: And I can’t give you that. Nobody can.
And that is why this movie is so true.
Relationships are great. No doubt about it. But if we’re always a Tom
about them, we’ll always be left feeling hopeless and lost when they
end. Of course…there are people who will stick around forever, and those
will be the people you should always fight to keep in your life. But
letting someone else define you can be so destructive, and I think (500)
Days of Summer depicts that perfectly
Sabtu, 11 April 2015
Running Man
Sabtu, 11 April 2015
Pertama kali saya nonton acara ini adalah pas bangun sahur pertengahan Ramadhan tahun 2014. Karena malas keluar rumah untuk cari makan sahur, saya malah nyetel tv dan langsung ketemu acara ini. Saya lupa stasiun TV mana yang nyiarin acara ini, tapi yang jelas sih bukan stasiun tv Indonesia.
Episode pertama yang saya tonton adalah episode ketika Gary (*ketika itu saya belum tau namanya) dikerjai sama semua member dan crew Running Man, yang akhirnya saya tahu ini adalah Episode 60 - The TruGary Show Awalnya sih agak aneh nonton acara ini, lucunya dimana, dan gimana cara ketawanya, haha.
Lalu, setelah di kantor, pas selesai daily production meeting, saya yang lagi males-malesan untuk PM ke lapangan *(lagi puasa coy, panaass) malah googling tentang Running Man. Dan kebanyakan referensi yang saya dapat, ngasih saran buat nonton Running Man Episode 63 & 64, karena bintang tamunya SNSD, yang katanya terkenal banget pas jaman itu. Sejak nonton episode inilah saya jadi bisa ngakak nonton Running Man, dan kemudian mulai download episode-episode lainnya buat bekal nonton di rumah pas sore pulang kerja atau buang waktu weekend di Bontang ini, haha.
Biasanya saya download di blog para penggemar korea, tapi paling simple sih download di kshowonline, silahkan kalau mau download.
Selamat menikmati.
Rabu, 08 April 2015
Gone Girl (2014) Review
Rabu, 08 April 2015
“You don't know what you've got 'til it's....”
This is my new blog, and i'm gonna try to review this movie.
“I think people are perverts,” begitu ucap David Fincher, yang juga ia sebut menjadi pondasi ketika ia berkarir. We're all perverts? Yeah, kita senang dengan hiburan yang bukan hanya membuat kita menangis ataupun tertawa, tapi kita juga ingin agar ada godaan dan rangsangan yang membuat hiburan itu semakin menarik. David Fincher merupakan salah satu jagoan dalam hal tersebut, uncompromising director yang selalu perfeksionis dalam mempermainkan penontonnya, komposisi yang ketat dan detail dengan tatanan yang mewah. Itu tidak hilang di Gone Girl, thriller lezat yang juga salah satu film terbaik tahun ini.
This is my new blog, and i'm gonna try to review this movie.
“I think people are perverts,” begitu ucap David Fincher, yang juga ia sebut menjadi pondasi ketika ia berkarir. We're all perverts? Yeah, kita senang dengan hiburan yang bukan hanya membuat kita menangis ataupun tertawa, tapi kita juga ingin agar ada godaan dan rangsangan yang membuat hiburan itu semakin menarik. David Fincher merupakan salah satu jagoan dalam hal tersebut, uncompromising director yang selalu perfeksionis dalam mempermainkan penontonnya, komposisi yang ketat dan detail dengan tatanan yang mewah. Itu tidak hilang di Gone Girl, thriller lezat yang juga salah satu film terbaik tahun ini.
Hari itu adalah ulang
tahun pernikahan mereka yang kelima, tapi harus menjadi awal mula tragedi bagi
seorang penulis bernama Nick Dunne (Ben
Affleck). Ketika tiba dirumah Nick menemukan sang istri, Amy (Rosamund Pike), telah menghilang.
Tapi masalahnya tidak sampai disitu, karena setelah meminta bantuan detektif
dan kepolisian, perjuangan untuk menyelidiki dan menemukan Amy justru
menghadirkan sorotan tajam pada Nick, yang berasal dari kondisi pernikahan dan
kisah masa lalu antara dia dan Amy. Dari media, orang-orang disekitarnya,
hingga masyarakat, mereka mulai bertanya-tanya apakah mungkin Nick terlibat
dalam kasus menghilangnya Amy.
Meskipun datang dengan memori di kepala yang masih hafal betul jalan cerita dari novel karya Gillian Flynn yang juga ditunjuk menjadi penulis naskah itu, saya tidak bisa memberikan perlawanan saat hook yang dilemparkan David Fincher di bagian awal itu langsung datang mencengkeram. Sutradara perfeksionis ini ternyata belum kehilangan keahliannya yang dapat kamu temukan di film-filmnya terdahulu seperti Seven, Fight Club, Zodiac, The Curious Case of Benjamin Button, The Social Network, dan The Girl with the Dragon Tattoo, yaitu membuat penonton dengan mudahnya merasakan kekuatan dari konflik utama, merasakan ada sesuatu yang tidak beres yang akan terjadi. Jujur saja itu yang saya harapkan, yang mungkin juga oleh book-readers lainnya, setting awal yang mencuri atensi, karena ceritanya sendiri tidak begitu rumit, sederhana malah, seperti menyusun puzzle dengan pertanyaan sederhana yang uniknya akan membuat penonton terus merasa ragu sembari bertanya-tanya.
Seperti apa sebenarnya Amy? Seperti apa sebenarnya Nick itu? Apakah Amy orang baik? Apakah Nick justru seorang penjahat?
Perlahan-lahan kita akan merasa seperti menjadi salah satu dari orang-orang
didalam cerita yang mulai dipermainkan imajinasinya untuk ingin tahu siapa
korban dan siapa pelaku dari pencarian yang dibakar dengan rapi ini, dari
masalah pernikahan obsesi kita terus dirangsang ketika David Fincher kembali menyuntikkan ramuan andalannya, membentuk
kisah tentang kegelapan yang menindas dengan berbagai materi satire yang selalu
sukses memberikan kejutan yang tajam dan menyengat. Imo itu merupakan pencapaian
yang memikat, ya meskipun jika kamu sudah menyaksikan film-film terdahulunya memang tidak ada yang baru dari David
Fincher disini, tapi cara ia mutar-mutar dengan materi sederhana dan membuat
mereka tampak kompleks atau rumit lewat penggunaan dua perspektif itu
berhasil memberikan sensasi yang variatif saat memanipulasi penontonnya.
Iya,
manipulasi, ada
karakter yang memanipulasi karakter lainnya, kemudian muncul pengacara
dan
korban yang kali ini terlibat dengan media, kemudian media juga
memanipulasi
masyarakat, dipelintir sedemikian rupa untuk menjalankan narasi yang
menurut saya
terasa liar dan berhasil memberikan kesan licik yang menarik,
menyibukkan penonton untuk mengulas kembali apa yang baru saja mereka
lihat dari
petualangan yang seperti terbagi menjadi dua bagian ini. Babak pertama Gone Girl itu seperti sebuah aksi
prosedurial khas detektif yang selain penuh intrik juga sesekali berhasil
menciptakan hal-hal lucu yang menyenangkan, kemudian setelah itu kita punya
transisi yang halus untuk masuk ke babak kedua yang lebih menegangkan, dari
istri yang hilang hingga kasus asmara dan media, itu disusun dengan presisi jadi perkembangan cerita terus terasa menarik.
Mungkin kekecewaan lain
yang dimiliki Gone Girl dibalik
kepiawaian David Fincher
mempermainkan thrill dan juga tetap mampu memberikan komentar sosial yang kuat,
serta cerita yang menurut saya menjadikan Gillian
Flynn sebagai elemen terkuat di film ini untuk bertarung di berbagai
penghargaan film, adalah penampilan Neil
Patrick Harris. Sudah diantisipasi sebenarnya, dan terbukti dengan
kapasitas yang kurang besar karakter Desi
Collings seperti kehilangan taringnya, terlalu halus dengan status sebagai
tersangka utama yang ia sandang. Meskipun begitu dua penampilan lain langsung
menendang jauh-jauh kesan negatif dari kekurangan tadi, Ben Affleck yang terus membuat penonton merasa curiga padanya
walaupun ada empati pada masalah yang ia hadapi, dan bintang utama, Rosamund Pike, kinerja yang lembut dan
tenang tapi juga intens dan penuh energi.
Di box office ia jelas akan mudah untuk berjaya, tapi bagaimana dengan
peluangnya di awards season? Mungkin kita akan melihat Rosamund Pike di pertarungan best actress, dan saya sangat yakin Gone Girl akan menjadi bagian besar di
kategori best screenplay, tapi meskipun kelak itu tidak terwujud setidaknya ini
telah berhasil untuk mengikuti jejak film-film David Fincher sebelumnya sebagai hiburan yang unforgettable, permainan manipulasi perspektif penuh misteri dan
rahasia, kesenangan dari sisi teknis yang artisitik bersama penggunaan
konsep pernikahan yang juga punya komentar satir yang tajam terhadap budaya,
konsisten tampil intens dengan beberapa momen lucu, karakter dan permainan
emosi yang kuat dengan kejutan-kejutan yang dibentuk dengan menarik, dan itu
semua David Fincher berikan hanya
dengan memutar-mutar satu pertanyaan dengan dua opsi mudah, ya atau tidak.
Penggambaran yang cerdas.

















%2Bpicture.jpg)
%2Bpicture1.jpg)
%2Bpicture2.jpg)
%2Bpicture3.jpg)
%2Bpicture4.jpg)
%2Bpicture5.jpg)
%2Bpicture6.jpg)
%2Bpicture7.jpg)